Menikmati Sate ‘Legenda’ Maranggi Sari Asih

Selain terkenal dengan berasnya, Cianjur memiliki kuliner khas sate yang berbeda dengan Madura. Daerah dataran tinggi tersebut terkenal dengan Sate Maranggi yang menggunakan daging sapi. Sate Maranggi Sari Asih.

Sate Maranggi Sari Asih, pusatnya terdapat di kabupaten Cianjur. Sekitar lima kilometer dari puncak Bogor, melewati Pasar Cipanas, tepatnya setelah pertigaan Jalan Raya Pacet, Cipendawa, Kabupaten Cianjur

Pagi itu, subuh-subuh, dingin-dingin, enaknya sih tidur…tapi apa daya. Istri lagi pengen banget makan Sate Maranggi. Berangkatlah kita ke Sate Maranggi Sari Asih di daerah Cianjur.

Karena kebetulan sedang berlibur di daerah puncak jadi kami tidak perlu menempuh perjalanan tidak terlalu jauh. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari villa. Sampailah aku dan istri di Sate Maranggi Sari Asih.

Bagi kalian yang belum pernah kesini aku sarankan kesini dipagi hari. Sehabis shalat subuh misalkan. Karena kalau malam sangat ramai, walaupun memang kita tidak akan menunggu terlalu lama, karena memang satenya tidak membutuhkan waktu lama untuk dipanaskan dan kemudian disajikan.

Karena disini buka 24 jam jadi memang ada waktu-waktu tertentu yang bisa kita manfaatkan untuk datang.

Proses pembuatannya tidak lama. Mungkin paling lama sekitar 10 menit.

Begitu sampai kita langsung memesan 2 porsi sate dengan nasi dan ketan.

Sebagai info kita bisa memilih nasi atau ketan bakar sebagai teman makam satenya. Sesuai selera saja. Rasanya sama-sama enak. Haha.

Sate pun dihidangkan di atas piring dengan balutan daun pisang. Tersedia sambal oncom di masing-masing meja sebagai saus pelengkap. Penampilannya seperti sate maranggi pada umumnya, namun dalam satu hari bisa menghabiskan lebih dari 3000 tusuk.

Aku baru pertama kali makan Sate Maranggi jadi banyak hal baru yang aku rasakan. Pertama, bumbunya adalah oncom, bukan kacang. Kedua ada ketan bakar sebagai pengganti nasi, lalu selain tebal, dagingnya tidak terasa keras, apalagi pilihan sate berlemak akan menambah gurihnya daging dan empuk saat digigit.

Disini ada beberapa pilihan. Sate campur (daging dengan tetelan/lemak) atau sate daging. Kalau kalian tidak memiliki masalah dengan lemak aku sarankan kalian memilih campur. Kenapa? Ya itu tadi justru rasa uniknya ada di tetelan tersebut. Walaupun memang rasa dagingnya pun juga tidak kalah enak.

Satu balok ketan yang kering di luar namun lembut di dalam, membuat cita rasa khas kuliner ini semain terasa. Ketannya pun cocok untuk dicampur sambal oncom dengan paduan asin dan pedas.

Harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Sate Campur Rp. 3000/Tusuk, Sate Daging Rp. 4000/Tusuk. Estimasi makan per orang sekitar Rp. 40.000. Cukup murah untuk kualitas rasa yang ditawarkan.

Kalau ke puncak Ciawi jangan melewatkan untuk mampir. Kalau tidak nanti akan menyesal hehe.

Advertisements